Teori Kebenaran Dan Contohnya. Filsafat Ilmu. Ilmu Pemerintahan 2025

 




Nama                           : Ahmad Ratib Asraf Triputra

NPM                           : 2416021102

Program Studi             : Ilmu Pemerintahan

Mata Kuliah                : Filsafat Ilmu

Dosen                          : Drs. R. Sigit  Krisbintoro, M. IP.

 

1. Teori Koherensi (Kebenaran sebagai Konsistensi Logis)

Inti Gagasan: Teori ini berpandangan bahwa sebuah pernyataan dianggap benar bukan karena cocok dengan dunia nyata, melainkan karena ia selaras, konsisten, dan tidak bertentangan dengan sekumpulan pernyataan lain yang telah kita terima sebagai benar. Kebenaran diibaratkan seperti jaring laba-laba; kekuatan setiap helai benang (pernyataan) bergantung pada hubungannya dengan benang-benang lain dalam satu sistem yang utuh.

a)      Tokoh Kunci: Para filsuf rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, dan Hegel.

b)     Fokus Utama: Konsistensi internal, penalaran deduktif, dan keutuhan sistem (jaringan pengetahuan).

Contoh Rinci:

1.     Sistem Hukum Pidana: Seorang jaksa membangun sebuah narasi (cerita) tentang kejahatan. Ia menyajikan bukti A (sidik jari), bukti B (rekaman CCTV), dan bukti C (kesaksian saksi mata). Narasi jaksa dianggap "benar" di pengadilan jika semua bukti ini koheren satu sama lain—saling mendukung dan membentuk sebuah cerita yang logis dan tanpa celah kontradiksi. Kebenaran di sini bukan tentang "melihat langsung" kejadian, tapi tentang membangun argumen yang paling konsisten.

2.     Pandangan Dunia (Worldview): Seseorang yang menganut paham materialisme filosofis (keyakinan bahwa hanya materi yang nyata) akan menganggap pernyataan "kesadaran manusia hanyalah produk aktivitas biokimia di otak" sebagai sebuah kebenaran. Mengapa? Karena pernyataan ini sangat koheren dengan premis dasar pandangannya, yaitu tidak ada jiwa atau roh yang non-fisik. Pernyataan ini benar dalam sistem keyakinan tersebut.

3.     Diagnosis Medis: Seorang dokter mendiagnosis pasien. Gejala 1 (demam tinggi) koheren dengan Gejala 2 (ruam kulit) dan Hasil Tes Darah (peningkatan leukosit). Kesimpulan "pasien menderita demam berdarah" dianggap benar karena ia secara logis menyatukan semua data yang ada ke dalam satu penjelasan yang konsisten.

Kelemahan Teori: Sebuah sistem argumen bisa jadi sangat koheren dan logis secara internal, tetapi sepenuhnya salah karena tidak sesuai dengan kenyataan. Novel fantasi seperti Lord of the Rings memiliki dunia yang sangat koheren dengan aturan dan sejarahnya sendiri, tetapi kita tidak akan menyebutnya sebagai kebenaran faktual.

 

2. Teori Korespondensi (Kebenaran sebagai Kecocokan dengan Fakta)

Inti Gagasan: Ini adalah teori kebenaran yang paling klasik dan intuitif. Sebuah pernyataan (ide, keyakinan) adalah benar jika dan hanya jika ia sesuai atau cocok (berkorespondensi) dengan fakta atau realitas objektif di dunia luar. Kebenaran adalah cerminan akurat dari kenyataan.

a)      Tokoh Kunci: Plato, Aristoteles, Bertrand Russell, G.E. Moore.

b)     Fokus Utama: Fakta objektif, verifikasi empiris (pembuktian lewat pengalaman/observasi), dan hubungan antara bahasa/pikiran dengan dunia.

Contoh Rinci:

1.     Ilmu Pengetahuan Alam (Sains): Hipotesis seorang ahli biologi bahwa "Tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis" dianggap benar. Kebenarannya didasarkan pada korespondensi dengan fakta yang dapat diamati dan diuji berulang kali: jika tumbuhan diletakkan di tempat gelap (fakta 1), ia akan mati (fakta 2). Pernyataan tersebut secara akurat mendeskripsikan realitas.

2.     Jurnalisme: Sebuah berita yang menyatakan "Telah terjadi kebakaran di Pasar Sentral pada pukul 03.00 pagi" adalah benar jika memang ada bangunan pasar yang hangus terbakar (fakta fisik), ada laporan dari pemadam kebakaran (fakta dokumen), dan ada saksi mata yang melihatnya (fakta observasi). Berita itu mencerminkan kejadian nyata.

3.     Kehidupan Sehari-hari: Jika Anda berkata, "Di dalam kulkas ada sebotol susu," kebenaran pernyataan itu ditentukan secara sederhana dengan membuka kulkas. Jika ada botol susu di sana, pernyataan Anda benar. Jika tidak ada, pernyataan Anda salah. Ada kecocokan langsung antara ucapan dan objek faktual.

Kelemahan Teori: Teori ini sulit diterapkan pada pernyataan yang tidak memiliki wujud fisik atau fakta yang bisa diobservasi, seperti pernyataan moral ("Membantu orang lain adalah baik"), matematika ("2+2=4"), atau keyakinan abstrak ("Keadilan harus ditegakkan").

 

3. Teori Pragmatik (Kebenaran sebagai Kegunaan Praktis)

Inti Gagasan: Teori ini menolak gagasan bahwa kebenaran itu statis atau absolut. Bagi kaum pragmatis, sebuah ide, keyakinan, atau pernyataan dianggap benar jika ia berfungsi, bermanfaat, dan memiliki konsekuensi praktis yang positif dalam kehidupan. Kebenaran adalah alat (instrumen) yang membantu kita memecahkan masalah dan berinteraksi dengan dunia secara efektif.

a)      Tokoh Kunci: Para filsuf Amerika seperti Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey.

b)     Fokus Utama: Konsekuensi, kegunaan (utility), keberhasilan praktis, dan pemecahan masalah.

Contoh Rinci:

1.     Psikologi dan Motivasi: Keyakinan bahwa "Manusia memiliki kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik" adalah sebuah kebenaran pragmatis. Orang yang memegang keyakinan ini cenderung lebih optimis, lebih gigih dalam berusaha, dan pada akhirnya sering kali mencapai hasil yang lebih baik. Karena keyakinan ini "bekerja" dan menghasilkan buah yang positif, maka ia dianggap benar.

2.     Manajemen Bisnis: Sebuah perusahaan menerapkan metode kerja "Agile". Metode ini dianggap "benar" atau "lebih benar" dari metode lama bukan karena alasan teoretis, tetapi karena secara praktis ia terbukti membuat tim lebih produktif, produk lebih cepat rilis, dan pelanggan lebih puas. Kebenarannya terletak pada fungsinya yang unggul.

3.     Pendidikan: Seorang guru menemukan bahwa mengajar matematika dengan menggunakan alat peraga (seperti balok hitung) membuat murid lebih cepat paham. Maka, pernyataan "Menggunakan alat peraga efektif untuk mengajar matematika" menjadi sebuah kebenaran pragmatis bagi guru tersebut, karena ia terbukti bermanfaat dalam praktik pengajaran.

Kelemahan Teori: Sesuatu bisa saja sangat berguna tetapi tidak benar secara faktual (contoh: efek plasebo, di mana keyakinan pada obat kosong bisa menyembuhkan). Selain itu, kriteria "bermanfaat" bisa menjadi sangat subjektif—bermanfaat bagi siapa?

 

4. Teori Performatif (Kebenaran sebagai Tindakan Penciptaan Realitas)

Inti Gagasan: Teori ini menyatakan bahwa untuk beberapa jenis pernyataan tertentu, kebenaran tidak diukur dari korespondensi atau koherensi. Sebaliknya, tindakan mengucapkan pernyataan itu sendiri yang menciptakan kebenaran atau realitas baru. Pernyataan ini tidak mendeskripsikan dunia, tetapi mengubahnya.

a)      Tokoh Kunci: J.L. Austin (dengan konsep speech acts).

b)     Fokus Utama: Otoritas penutur, konteks institusional (hukum, adat, upacara), dan kekuatan kata-kata untuk bertindak (words as actions).

Contoh Rinci:

1.     Deklarasi Resmi: Ketika seorang pemimpin negara dalam sebuah pidato resmi berkata, "Saya nyatakan perang terhadap negara X," pernyataan itu tidak sedang melaporkan sebuah fakta. Sebaliknya, ucapan itu sendiri yang menciptakan keadaan perang secara hukum dan politik. Realitas baru (keadaan perang) terwujud karena pernyataan itu diucapkan oleh figur yang berwenang.

2.     Janji dan Sumpah: Saat Anda mengatakan, "Saya bersumpah akan menjaga rahasia ini," Anda tidak sedang menjelaskan apa yang Anda lakukan; Anda sedang melakukan tindakan bersumpah. Anda menciptakan sebuah ikatan dan kewajiban moral untuk diri Anda sendiri pada saat itu juga.

3.     Pemberian Wewenang: Dalam sebuah rapat, seorang direktur berkata kepada manajer, "Saya beri Anda wewenang penuh untuk proyek ini." Ucapan tersebut secara langsung menciptakan sebuah realitas baru di mana sang manajer kini memiliki otoritas yang sebelumnya tidak ia miliki.

Kelemahan Teori: Cakupannya sangat sempit. Teori ini hanya berlaku untuk kategori "ucapan performatif" yang terbatas dan tidak dapat digunakan untuk menilai kebenaran dari sebagian besar pernyataan lain yang bersifat deskriptif (misalnya, "Bumi berputar mengelilingi Matahari").

 

5. Teori Konsensus (Kebenaran sebagai Kesepakatan Komunitas)

Inti Gagasan: Menurut teori ini, sebuah pernyataan dianggap benar jika ia merupakan hasil dari kesepakatan (konsensus) bersama dalam sebuah komunitas tertentu, terutama komunitas para ahli atau ilmuwan. Kebenaran bukanlah sesuatu yang ditemukan sendirian, melainkan dibangun secara sosial melalui proses diskursus, debat, dan argumentasi rasional.

a)      Tokoh Kunci: Jürgen Habermas, Charles S. Peirce.

b)     Fokus Utama: Dialog rasional, intersubjektivitas (dapat diterima oleh banyak subjek), dan kesepakatan komunal.

Contoh Rinci:

1.     Komunitas Ilmiah: Pernyataan bahwa "Teori Evolusi melalui Seleksi Alam adalah penjelasan terbaik bagi keragaman hayati" dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Ini bukan karena satu ilmuwan saja yang membuktikannya, melainkan karena ada konsensus yang luar biasa kuat di antara para ahli biologi di seluruh dunia setelah melalui perdebatan dan pengujian bukti selama lebih dari satu abad.

2.     Penetapan Standar Teknis: Mengapa kita semua sepakat bahwa satu menit adalah 60 detik? Ini adalah sebuah "kebenaran" yang didasarkan pada konsensus historis dan ilmiah. Tidak ada hukum alam yang mutlak menyatakan demikian, tetapi kesepakatan ini diterima secara universal dan menjadi dasar sistem waktu kita.

3.     Kritik Seni dan Sastra: Sebuah lukisan atau novel bisa dianggap sebagai "masterpiece" (karya agung). Status ini bukanlah fakta objektif seperti berat sebuah batu, melainkan sebuah kebenaran yang muncul dari konsensus para kritikus, sejarawan seni, dan akademisi selama bertahun-tahun yang mengakui nilai dan pengaruh karya tersebut.

Kelemahan Teori: Sejarah menunjukkan bahwa konsensus mayoritas bisa saja salah total (misalnya, dulu ada konsensus bahwa Bumi adalah pusat alam semesta). Konsensus juga bisa dipengaruhi oleh tekanan politik atau bias kelompok, bukan murni oleh argumen rasional.

 

0 Comments