Nama : Ahmad Ratib Asraf Triputra
NPM : 2416021102
Program Studi : Ilmu Pemerintahan
Mata
Kuliah :
Filsafat Ilmu
Dosen : Drs. R.
Sigit Krisbintoro, M. IP.
1. Teori Koherensi (Kebenaran
sebagai Konsistensi Logis)
Inti Gagasan: Teori ini berpandangan bahwa sebuah
pernyataan dianggap benar bukan karena cocok dengan dunia nyata, melainkan
karena ia selaras, konsisten, dan tidak bertentangan dengan sekumpulan
pernyataan lain yang telah kita terima sebagai benar. Kebenaran diibaratkan
seperti jaring laba-laba; kekuatan setiap helai benang (pernyataan) bergantung
pada hubungannya dengan benang-benang lain dalam satu sistem yang utuh.
a)
Tokoh
Kunci: Para
filsuf rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, dan Hegel.
b)
Fokus
Utama:
Konsistensi internal, penalaran deduktif, dan keutuhan sistem (jaringan
pengetahuan).
Contoh Rinci:
1. Sistem Hukum Pidana: Seorang jaksa membangun sebuah
narasi (cerita) tentang kejahatan. Ia menyajikan bukti A (sidik jari), bukti B
(rekaman CCTV), dan bukti C (kesaksian saksi mata). Narasi jaksa dianggap
"benar" di pengadilan jika semua bukti ini koheren satu sama
lain—saling mendukung dan membentuk sebuah cerita yang logis dan tanpa celah
kontradiksi. Kebenaran di sini bukan tentang "melihat langsung"
kejadian, tapi tentang membangun argumen yang paling konsisten.
2. Pandangan Dunia (Worldview): Seseorang yang menganut paham
materialisme filosofis (keyakinan bahwa hanya materi yang nyata) akan
menganggap pernyataan "kesadaran manusia hanyalah produk aktivitas
biokimia di otak" sebagai sebuah kebenaran. Mengapa? Karena pernyataan ini
sangat koheren dengan premis dasar pandangannya, yaitu tidak ada jiwa
atau roh yang non-fisik. Pernyataan ini benar dalam sistem keyakinan
tersebut.
3. Diagnosis Medis: Seorang dokter mendiagnosis pasien.
Gejala 1 (demam tinggi) koheren dengan Gejala 2 (ruam kulit) dan Hasil Tes
Darah (peningkatan leukosit). Kesimpulan "pasien menderita demam
berdarah" dianggap benar karena ia secara logis menyatukan semua data yang
ada ke dalam satu penjelasan yang konsisten.
Kelemahan Teori: Sebuah sistem argumen bisa jadi
sangat koheren dan logis secara internal, tetapi sepenuhnya salah karena tidak
sesuai dengan kenyataan. Novel fantasi seperti Lord of the Rings
memiliki dunia yang sangat koheren dengan aturan dan sejarahnya sendiri, tetapi
kita tidak akan menyebutnya sebagai kebenaran faktual.
2. Teori Korespondensi (Kebenaran
sebagai Kecocokan dengan Fakta)
Inti Gagasan: Ini adalah teori kebenaran yang
paling klasik dan intuitif. Sebuah pernyataan (ide, keyakinan) adalah benar
jika dan hanya jika ia sesuai atau cocok (berkorespondensi) dengan fakta
atau realitas objektif di dunia luar. Kebenaran adalah cerminan akurat dari
kenyataan.
a)
Tokoh
Kunci: Plato,
Aristoteles, Bertrand Russell, G.E. Moore.
b)
Fokus
Utama: Fakta
objektif, verifikasi empiris (pembuktian lewat pengalaman/observasi), dan
hubungan antara bahasa/pikiran dengan dunia.
Contoh Rinci:
1. Ilmu Pengetahuan Alam (Sains): Hipotesis seorang ahli biologi
bahwa "Tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis"
dianggap benar. Kebenarannya didasarkan pada korespondensi dengan fakta
yang dapat diamati dan diuji berulang kali: jika tumbuhan diletakkan di tempat
gelap (fakta 1), ia akan mati (fakta 2). Pernyataan tersebut secara akurat
mendeskripsikan realitas.
2. Jurnalisme: Sebuah berita yang menyatakan
"Telah terjadi kebakaran di Pasar Sentral pada pukul 03.00 pagi"
adalah benar jika memang ada bangunan pasar yang hangus terbakar (fakta fisik),
ada laporan dari pemadam kebakaran (fakta dokumen), dan ada saksi mata yang
melihatnya (fakta observasi). Berita itu mencerminkan kejadian nyata.
3. Kehidupan Sehari-hari: Jika Anda berkata, "Di dalam
kulkas ada sebotol susu," kebenaran pernyataan itu ditentukan secara
sederhana dengan membuka kulkas. Jika ada botol susu di sana, pernyataan Anda
benar. Jika tidak ada, pernyataan Anda salah. Ada kecocokan langsung antara
ucapan dan objek faktual.
Kelemahan Teori: Teori ini sulit diterapkan pada
pernyataan yang tidak memiliki wujud fisik atau fakta yang bisa diobservasi,
seperti pernyataan moral ("Membantu orang lain adalah baik"),
matematika ("2+2=4"), atau keyakinan abstrak ("Keadilan harus
ditegakkan").
3. Teori Pragmatik (Kebenaran
sebagai Kegunaan Praktis)
Inti Gagasan: Teori ini menolak gagasan bahwa
kebenaran itu statis atau absolut. Bagi kaum pragmatis, sebuah ide, keyakinan,
atau pernyataan dianggap benar jika ia berfungsi, bermanfaat, dan memiliki
konsekuensi praktis yang positif dalam kehidupan. Kebenaran adalah alat
(instrumen) yang membantu kita memecahkan masalah dan berinteraksi dengan dunia
secara efektif.
a)
Tokoh
Kunci: Para
filsuf Amerika seperti Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey.
b)
Fokus
Utama:
Konsekuensi, kegunaan (utility), keberhasilan praktis, dan pemecahan
masalah.
Contoh Rinci:
1. Psikologi dan Motivasi: Keyakinan bahwa "Manusia
memiliki kemampuan untuk berubah menjadi lebih baik" adalah sebuah
kebenaran pragmatis. Orang yang memegang keyakinan ini cenderung lebih optimis,
lebih gigih dalam berusaha, dan pada akhirnya sering kali mencapai hasil yang
lebih baik. Karena keyakinan ini "bekerja" dan menghasilkan buah yang
positif, maka ia dianggap benar.
2. Manajemen Bisnis: Sebuah perusahaan menerapkan metode
kerja "Agile". Metode ini dianggap "benar" atau "lebih
benar" dari metode lama bukan karena alasan teoretis, tetapi karena secara
praktis ia terbukti membuat tim lebih produktif, produk lebih cepat rilis, dan
pelanggan lebih puas. Kebenarannya terletak pada fungsinya yang unggul.
3. Pendidikan: Seorang guru menemukan bahwa
mengajar matematika dengan menggunakan alat peraga (seperti balok hitung)
membuat murid lebih cepat paham. Maka, pernyataan "Menggunakan alat peraga
efektif untuk mengajar matematika" menjadi sebuah kebenaran pragmatis bagi
guru tersebut, karena ia terbukti bermanfaat dalam praktik pengajaran.
Kelemahan Teori: Sesuatu bisa saja sangat berguna
tetapi tidak benar secara faktual (contoh: efek plasebo, di mana keyakinan pada
obat kosong bisa menyembuhkan). Selain itu, kriteria "bermanfaat"
bisa menjadi sangat subjektif—bermanfaat bagi siapa?
4. Teori Performatif (Kebenaran
sebagai Tindakan Penciptaan Realitas)
Inti Gagasan: Teori ini menyatakan bahwa untuk
beberapa jenis pernyataan tertentu, kebenaran tidak diukur dari korespondensi
atau koherensi. Sebaliknya, tindakan mengucapkan pernyataan itu sendiri yang
menciptakan kebenaran atau realitas baru. Pernyataan ini tidak mendeskripsikan
dunia, tetapi mengubahnya.
a)
Tokoh
Kunci: J.L.
Austin (dengan konsep speech acts).
b)
Fokus
Utama: Otoritas
penutur, konteks institusional (hukum, adat, upacara), dan kekuatan kata-kata
untuk bertindak (words as actions).
Contoh Rinci:
1. Deklarasi Resmi: Ketika seorang pemimpin negara
dalam sebuah pidato resmi berkata, "Saya nyatakan perang terhadap negara
X," pernyataan itu tidak sedang melaporkan sebuah fakta. Sebaliknya,
ucapan itu sendiri yang menciptakan keadaan perang secara hukum dan
politik. Realitas baru (keadaan perang) terwujud karena pernyataan itu
diucapkan oleh figur yang berwenang.
2. Janji dan Sumpah: Saat Anda mengatakan, "Saya
bersumpah akan menjaga rahasia ini," Anda tidak sedang menjelaskan apa
yang Anda lakukan; Anda sedang melakukan tindakan bersumpah. Anda
menciptakan sebuah ikatan dan kewajiban moral untuk diri Anda sendiri pada saat
itu juga.
3. Pemberian Wewenang: Dalam sebuah rapat, seorang
direktur berkata kepada manajer, "Saya beri Anda wewenang penuh untuk
proyek ini." Ucapan tersebut secara langsung menciptakan sebuah
realitas baru di mana sang manajer kini memiliki otoritas yang sebelumnya tidak
ia miliki.
Kelemahan Teori: Cakupannya sangat sempit. Teori ini
hanya berlaku untuk kategori "ucapan performatif" yang terbatas dan
tidak dapat digunakan untuk menilai kebenaran dari sebagian besar pernyataan
lain yang bersifat deskriptif (misalnya, "Bumi berputar mengelilingi
Matahari").
5. Teori Konsensus (Kebenaran
sebagai Kesepakatan Komunitas)
Inti Gagasan: Menurut teori ini, sebuah
pernyataan dianggap benar jika ia merupakan hasil dari kesepakatan
(konsensus) bersama dalam sebuah komunitas tertentu, terutama komunitas
para ahli atau ilmuwan. Kebenaran bukanlah sesuatu yang ditemukan sendirian,
melainkan dibangun secara sosial melalui proses diskursus, debat, dan
argumentasi rasional.
a)
Tokoh
Kunci: Jürgen
Habermas, Charles S. Peirce.
b)
Fokus
Utama: Dialog
rasional, intersubjektivitas (dapat diterima oleh banyak subjek), dan
kesepakatan komunal.
Contoh Rinci:
1. Komunitas Ilmiah: Pernyataan bahwa "Teori
Evolusi melalui Seleksi Alam adalah penjelasan terbaik bagi keragaman
hayati" dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Ini bukan karena satu ilmuwan
saja yang membuktikannya, melainkan karena ada konsensus yang luar biasa
kuat di antara para ahli biologi di seluruh dunia setelah melalui
perdebatan dan pengujian bukti selama lebih dari satu abad.
2. Penetapan Standar Teknis: Mengapa kita semua sepakat bahwa
satu menit adalah 60 detik? Ini adalah sebuah "kebenaran" yang didasarkan
pada konsensus historis dan ilmiah. Tidak ada hukum alam yang mutlak
menyatakan demikian, tetapi kesepakatan ini diterima secara universal dan
menjadi dasar sistem waktu kita.
3. Kritik Seni dan Sastra: Sebuah lukisan atau novel bisa
dianggap sebagai "masterpiece" (karya agung). Status ini bukanlah
fakta objektif seperti berat sebuah batu, melainkan sebuah kebenaran yang
muncul dari konsensus para kritikus, sejarawan seni, dan akademisi
selama bertahun-tahun yang mengakui nilai dan pengaruh karya tersebut.
Kelemahan Teori: Sejarah menunjukkan bahwa konsensus
mayoritas bisa saja salah total (misalnya, dulu ada konsensus bahwa Bumi adalah
pusat alam semesta). Konsensus juga bisa dipengaruhi oleh tekanan politik atau
bias kelompok, bukan murni oleh argumen rasional.

0 Comments