UNTHINKBALE DEMOCRACY, POLITICAL CHANGE IN ADVANCED INDUSITRIAL DEMOCRACIES.

 


Kelompok :

1.     Ahmad Ratib Asraf Triputra(2416021102/C) Ketua Kelompok

2.     Muhammad Afif Fadhlih (2416021104/C)

3.     Angelo Rizky Nanda (2416021123/C)

 

Tugas Resume I

Mata Kuliah Partai Politik

“Unthinkbale Democracy, Political Change In Advanced Industrial Democraties”

Dalam Dalton, R.J. & Watetenberg, M.P(Eds.). 2000

Portes Without Partisans Political Change in Advanced Industrial Democracles, New York; Oxford University Press

 

Latar Belakang: Sebuah Paradoks di Jantung Demokrasi

Pada dasarnya, bab ini dibuka dengan sebuah kegelisahan akademik yang sangat relevan. Para penulis, Dalton dan Wattenberg, menyoroti sebuah ironi besar dalam sistem demokrasi modern. Secara teoretis, kita selalu diajarkan bahwa partai politik (parpol) adalah pilar utama demokrasi. Parpol berfungsi sebagai "jembatan" antara rakyat dan negara, menyuarakan aspirasi, dan mengorganisir pilihan-pilihan kebijakan. Tanpa parpol, demokrasi modern dianggap mustahil atau "tak terbayangkan" (unthinkable).

Namun, realitas di lapangan, khususnya di negara-negara industri maju, menunjukkan tren sebaliknya. Penulis mengidentifikasi adanya gejala di mana warga negara justru semakin menjauh dari parpol. Kepercayaan menurun, keanggotaan merosot, dan ikatan emosional pemilih dengan parpol semakin luntur. Inilah paradoks yang menjadi fondasi seluruh argumen dalam buku ini.

Tesis Utama: Fenomena Partisan Dealignment (Runtuhnya Loyalitas Kepada Partai)

Inti dari argumen penulis adalah fenomena yang disebut partisan dealignment. Istilah ini merujuk pada proses melemahnya atau bahkan putusnya ikatan loyalitas pemilih terhadap partai politik tertentu. Jika dulu seorang pemilih bisa dengan mudah diidentifikasi sebagai "pengikut setia" Partai A atau Partai B sering kali karena faktor keturunan atau kelas sosial—kini pemilih menjadi lebih independen dan cair. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut penulis sebagai "Partai tanpa Partisan". Artinya, meskipun institusi partainya masih ada dan berkuasa di parlemen, basis massa pendukungnya di masyarakat tidak lagi solid dan loyal seperti dulu.

Analisis Penyebab: Mengapa Pemilih Menjauh dari Partai?

Menurut Dalton dan Wattenberg, pergeseran ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari transformasi sosial yang lebih besar. Ada tiga faktor utama yang mendorongnya:

  1. Meningkatnya Kemandirian Pemilih: Tingkat pendidikan masyarakat yang semakin tinggi dan ledakan informasi (terutama dari media) membuat pemilih modern lebih kritis. Mereka tidak lagi pasif menerima arahan dari parpol. Pemilih kini mampu memobilisasi dirinya secara kognitif, artinya mereka bisa mencari informasi sendiri, menimbang-imbang program, dan mengevaluasi kualitas kandidat secara mandiri.
  2. Pergeseran Fokus Isu: Isu-isu politik klasik yang membelah masyarakat (seperti konflik kelas buruh vs. pemilik modal) mulai kehilangan relevansinya. Kini, muncul isu-isu "post-materialis" yang lebih kompleks seperti lingkungan hidup, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan gaya hidup. Isu-isu ini sering kali tidak bisa dijawab secara tegas oleh ideologi partai tradisional, sehingga pemilih mencari saluran lain untuk menyuarakan aspirasinya.
  3. Personalisasi Politik: Peran media, terutama televisi dan kini media sosial, telah menggeser fokus politik dari partai ke individu. Kampanye lebih menonjolkan citra, karisma, dan rekam jejak personal seorang kandidat daripada platform atau ideologi partainya. Akibatnya, pemilih lebih terikat pada figur ketimbang pada institusi parpol.

Implikasi Politik: Konsekuensi dari Melemahnya Partai

Melemahnya ikatan partisan ini membawa sejumlah konsekuensi signifikan bagi stabilitas dan proses politik:

  1. Peta Politik Lebih Cair (Voter Volatility): Pemilih menjadi sangat mudah berpindah pilihan dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Ini membuat hasil pemilu menjadi lebih sulit diprediksi dan berpotensi menciptakan ketidakstabilan politik.
  2. Maraknya Split-Ticket Voting: Pemilih tidak ragu lagi untuk "mencampur" pilihannya, misalnya memilih presiden dari Partai A, tetapi anggota legislatif dari Partai B. Ini menunjukkan bahwa loyalitas pada satu partai secara utuh sudah terkikis.
  3. Tantangan bagi Pemerintahan: Ketika partai di parlemen tidak lagi didukung oleh basis massa yang solid, legitimasi dan kekuatan mereka untuk menjalankan agenda kebijakan yang sulit bisa melemah.

Kesimpulan: Menavigasi "Demokrasi yang Tak Terbayangkan"

Judul bab ini, "Unthinkable Democracy," pada akhirnya merujuk pada tantangan untuk menjalankan sistem demokrasi di era di mana pilar utamanya—partai politik—sedang mengalami krisis hubungan dengan masyarakat. Ini bukanlah pertanda matinya demokrasi, melainkan evolusi menuju bentuk baru yang lebih kompleks. Demokrasi kini harus berjalan tanpa jaminan loyalitas buta dari warganya.

Bagi kita sebagai mahasiswa ilmu pemerintahan, bab ini memberikan kerangka kerja yang sangat kuat untuk memahami mengapa politik kontemporer, termasuk di Indonesia, sering kali terasa lebih cair, lebih fokus pada figur, dan lebih sulit diprediksi. Ini adalah realitas baru yang harus dianalisis dan dihadapi.

 

0 Comments